Cari Blog Ini

Sabtu, 30 Oktober 2010

hubungan motivasi klien dengan pelaksanaan teknik relaksasi pada klien post operasi appendik di RSD

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Insiden maksimum apendisitis akut terjadi pada dekade kedua dan ketiga dari kehidupan. Walau penyakit tersebut dapat terjadi pada setiap saat dari kehidupan. Laki-laki dan perempuan memiliki resiko yang sama, kecuali antara pubertas dan usia 25 tahun, yaitu pada laki-laki frekuensinya lebih tinggi dengan rasio 3:2. (Harrison, 2000:1610)
Apendisitis mengacu pada radang appendiks, suatu tambahan seperti kantung yang tak berfungsi terletak pada bagian inferior dari sekum. Penyebab yang paling umum dari apendisitis adalah obstruksi lumen oleh feses. Yang akhirnya merusak suplai aliran darah dan mengikis mukosa menyebabkan inflamasi, komplikasi utama berhubungan dengan apendisitis adalah peritonitis, yang dapat terjadi bila appendiks ruptur. Appendiktomi atau pengangkatan appendik adalah satu-satunya tindakan (Barbara Enggram, 1999:215)
Setiap manusia dapat mengalami nyeri dan merupakan sensasi tidak enak akibat adanya gangguan fisiologis. Tidak sedikit orang yang datang ke rumah sakit atau Puskesmas dengan keluhan nyeri. Nyeri banyak terjadi bersamaan proses penyakit atau dengan beberapa pemeriksaan diagnostik atau pengobatan, yang sangat mengganggu dan menyakitkan lebih banyak dibandingkan suatu penyakit manapun (Smelser 2002:212)
Rasa sakit merupakan masalah umum yang dialami klien dan masyarakat. Juga merupakan sinyal tanda bahaya, jika diabaikan akan berakibat serius. Setiap orang akan bereaksi atau berespon berbeda dengan rangsang dan berat nyeri yang sama. Hal ini sangat bersifat subyektif individual dan bergantung dari banyak faktor individu yang akhirnya seseorang mencari pertolongan pengobatan atau mencoba mencari sendiri untuk mengatasinya.
Untuk mengurangi nyeri salah satunya latihan teknik relaksasi yang sederhana terdiri atas nafas abdomen dengan frekuensi lambat, berirama. Klien dapat memejamkan matanya dan bernafas dengan perlahan dan nyaman. Periode relaksasi yang teratur dapat membantu untuk melawan keletihan dan ketegangan otot. (Erfandi, 2008)
Berdasarkan data di RSD D pada bulan November 2008 sampai dengan bulan Januari 2009 terdapat 21 klien post operasi appendik. Hasil survei awal pada bulan Februari didapatkan, dari 5 orang klien post operasi appendik, terdapat 3 orang atau 60% yang tidak melaksanakan tehnik relaksasi untuk mengurangi nyeri dan terdapat 2 orang atau 40% yang sudah melaksanakan tehnik relaksasi untuk mengurangi nyeri.
Dari data di atas menunjukkan masih banyak klien post operasi appendik yang tidak melaksanakan teknik relaksasi untuk mengurangi nyeri. 

DST.................ANDA BUTUH LENGKAP SAMPAI BAB TERAKHIR DAN LAMPIRANNYA SAMPAI DATA SPSS DALAM BENTUK DATA WORD.....HUBUNGI 085645040345

gambaran perilaku pada pasien OMA tentang penyebab terjadinya OMA di Poli THT RSD

BAB 1

PENDAHULUAN



1.1             Latar Belakang
Otitis media atau  infeksi telinga tengah banyak dijumpai dimasyarakat, penyakit ini sangat berkaitan erat dengan infeksi saluran pernapasan atas. Oleh karena itu otitis media banyak ditemukan pada bayi dan anak. Hal ini disebabkan karena pada kelompok usia tersebut sangat rentan terhadap infeksi saluran pernapasan atas, sehingga pertahanan tubuh terganggu dan merupakaan masalah kesehatan yang utama. Karena lebih sering ditemukan pada bayi dan anak-anak (Soepardi Efiaty Arsyad dan Nurbaiti Iskandar, 2001).
Otitis media akut (OMA) merupakan suatu infeksi akut pada mukosa telinga tengah yang diikuti dengan pembentukan nanah (mukopus). Otitis media akut paling banyak terjadi karena penyebaran infeksi lewat tuba  Eustachius (rinogen), karena infeksi saluran pernafasan atas mukosa tuba Eustachius odem sehingga fungsinya terganggu. Keadaan inilah yang mempermudah masuknya kuman ke telinga tengah (Rukmini Sri, 2000).
Menurut data Medical Record di Poli THT RSD  Jumlah penderita OMA pada Tahun 2008 sebanyak 1556 pasien, terdiri dari pasien lama 788 orang atau 50,64% dan pasien baru 768 atau 49,35% orang. Sedangkan pada bulan Januari sampai Februari 2009 tercatat 166 pasien dengan rincian 90 atau 54,21% pasien lama dan 76 atau 45,78% pasien baru. Berdasarkan survey awal pada 10 orang penderita OMA didapatkan hasil : 6 orang atau 60% mengatakan sebelum sakit sering menggaruk lubang telinga dengan bulu ayam, pucuk sapu lidi, 4 atau 40% orang mengatakan ketika gatal sering memasukkan air kedalam telinga. Dari data diatas, masalah penelitian adalah seluruh responden tidak melakukan tindakan pencegahan dengan benar.
Menurut Lawrence Green (1980) dikutip dalam Bet Smart (1997), faktor yang dapat menyebabkan timbulnya OMA dibagi menjadi tiga yaitu Faktor predisposisi (predisposing factors) yakni dalam perilaku (pengetahuan, sikap dan tindakan), persepsi, faktor pendukung (enabling factors) dalam sosial ekonomi, ketersedian waktu dan faktor pendorong (reinforcing factors) terdiri dari sikap petugas, peran keluarga, emosi.
Pada pasien OMA apabila tidak mendapat penanganan yang baik akan mengakibatkan komplikasi. Salah satu komplikasi yang paling berbahaya adalah penjalaran penyakit kearah intrakranial seperti meningitis, karena dapat menyebabkan kematian. Sedangkan gangguan pendengaran akibat OMA dapat memberikan kesulitan, misalnya sulit dalam mencari pekerjaan, kesulitan dalam berkomunikasi dan kesulitan dalam belajar. Oleh karena itu penanganan penyakit yang dilakukan sedini mengkin akan dapat mencegah terjadinya komplikasi yang tidak diharapkan (Rukmini Sri, 2000). Untuk mencegah terjadinya komplikasi di atas perlu mengenal tanda, gejala kekambuhan dan juga perilaku tentang kebersihan telinga supaya terhindar dari terjadinya komplikasi.
DST.................ANDA BUTUH LENGKAP SAMPAI BAB TERAKHIR DAN LAMPIRANNYA SAMPAI DATA SPSS DALAM BENTUK DATA WORD.....HUBUNGI 085645040345

gambaran kesiapan masyarakat menghadapi penyakit pasca banjir di Dusun Lohgawe Desa Gawerejo Kecamatan Karangbinangun

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Indonesia sebagai negara kepulauan, secara geografis terletak pada titik pertemuan antara tiga lempengan besar, yaitu lempengan Eurasian di utara, lempengan pasific di timur dan lempengan Indo Australia di selatan, menyebabkan Indonesia menjadi daerah yang mempunyai resiko tinggi terhadap bencana alam, seperti gempa, letusan vulkanik, gelombang Tsunami, tanah longsor, banjir dan lain sebagainya. Bencana pada dasarnya dapat terjadi karena memang merupakan gejala alamiah atau Natural Disaster dan bencana akibat ulah manusia atau Man Made Disaster. (Depkes RI, 2006).
Fenomena banjir bandang dan tanah longsor adalah suatu fenomena  alam yang jamak di muka bumi ini. Secara umum, ketika  sebuah sistem aliran sungai yang memiliki tingkat kemiringan sungai yang relatif tinggi, apabila di bagian hulunya terjadi hujan yang cukup lebat, maka potensi terjadinya banjir bandang  relatif tinggi. Tingkat kemiringan sungai yang relatif curam ini dapat dikatakan sebagai faktor “bakat” atau bawaan.  Sedangkan curah hujan adalah salah satu faktor pemicu saja.
Banjir menimbulkan dampak lumpuhnya perekonomian. Sarana vital dan infrastrukture, misalnya jalan tol, jalan protokol. Public Transportation misalnya kereta api, bis, pesawat udara, kantor, pertokoan. Selain itu juga banjir mengakibatkan timbulnya penyakit pasca banjir diantaranya diare, demam berdarah, Leptospirosis, ISPA, cacingan. Penyakit kulit dan berbagai penyakit penyerta lain (Lilis Wijaya,2008).
Dalam hal ini peran masyarakat berperan penting dalam menghadapi bencana alam yang terjadi. Peran masyarakat menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu (Nasrul Effendy,1998).
Data banjir di wilayah Kabupaten  tahun 2008 mengakibatkan timbulnya penyakit Diare sebanyak 30 orang, DBD sebanyak 5 orang, ISPA sebanyak 40 orang, dan penyakit kulit sebanyak 50 orang (Depkes RI, 2008). Sementara tahun 2009 data Satlak Penanggulangaan Bencana Kabupaten Lamongan hingga Sabtu 14 Februari 2009 menyebutkan kerugian mencapai      Rp. 18,241 Miliar. Sedangkan data jumlah penyakit pasca banjir belum di ketahui, hal ini di sebabkan adanya banjir susulan (Dinkes Lamongan,2009). Dan dari survey awal terhadap korban banjir di Dusun Lohgawe Desa Gawerejo Kecamatan Karangbinangun tanggal 15 Pebruari 2009, dari 251 orang korban banjir, 12 diantaranya mengalami gatal-gatal dan 5 mengalami diare. Dengan demikian masalah penelitian adalah masih adanya masyarakat yang masih belum siap dalam menghadapi penyakit pasca banjir. Adapun faktor yang kemungkinan dapat mempengaruhi antara lain: Pengetahuan, ekonomi, sosial budaya, pengalaman, peran petugas kesehatan, dan transportasi.
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengideraan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni: indera penglihatan, pendengaran, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui mata dan telinga. Dari pengetahuan manusia dapat dimengerti dan diketahui lingkungan yang bersih dan kurang bersih (Soekidjo Notoatmodjo, 2003). Semakin tinggi pengetahuan korban banjir tentang pentingnya menyiapkan masyarakat dalam menghadapi penyakit pasca banjir diantaranya dengan menjaga kebersihan dan sanitasi. Sebaliknya semakin rendah pengetahuan dapat meningkatkan resiko terjangkitnya penyakit pasca banjir.
Masalah ekonomi atau kemiskinan akan sangat mengurangi kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat mereka terhadap gizi, perumahan kebersihan diri dan lingkungan yang sehat jelas kemungkinan itu akan dengan mudah dapat menimbulkan penyakit (Nasrul Effendy, 1998). Semakin tinggi tingkat ekonomi masyarakat, semakin tinggi pula kemampuan seseorang dalam mempersiapkan segala sesuatu baik berupa dana maupun kesiapan membeli peralatan menghadapi penyakit pasca banjir, semakin rendah tingkat ekonomi masyarakat semakin rendah pula kemampuan masyarakat mempersiapkan diri menghadapi penyakit pasca banjir.
Menurut Soerjono Soekanto (2005), sosial budaya adalah Kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Semakin tinggi budaya masyarakat semakin tinggi pula kepedulian mereka akan kesiapan dalam menghadapi penyakit pasca banjir, sebaliknya semakin rendah budaya masyarakat semakin rendah pula kepedulian mereka akan kesiapan dalam menghadapi penyakit pasca banjir.
Pengalaman merupakan segala sesuatu yang telah diketahui dan dikerjakan. (Lilis Wijaya, 2008). Masyarakat yang sudah berpengalaman dengan bencana banjir mereka akan lebih dini dalam mempersiapkan diri menghadapi bencana banjir terutama penyakit pasca banjir.Sebaliknya pada masyarakat yang tidak berpengalaman menghadapi banjir, mereka akan kesulitan dalam mempersiapkan diri menghadapi penyakit pasca banjir.
Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdi diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau ketrampilan melalui kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan (Djoko Wijono, 1999). Semakin dekat keberadaan tenaga kesehatan, semakin berperan dalam memberikan pendidikan kesehatan tentang kesiapan menghadapi penyakit pasca banjir, maka kemungkinan dapat meminimalisir terjadinya penyakit pasca banjir. Sebaliknya bila keberadaan tenaga kesehatan semakin jauh dengan masyarakat, maka kesiapan menghadapi penyakit pasca banjir semakin rendah, dan kemungkinan penyakit pasca banjir akan meluas di masyarakat.
DST.................ANDA BUTUH LENGKAP SAMPAI BAB TERAKHIR DAN LAMPIRANNYA SAMPAI DATA SPSS DALAM BENTUK DATA WORD.....HUBUNGI 085645040345

hubungan antara pola makan dengan kekambuhan pada penderita Osteoarthritis di URJ Syaraf RSD Dr. Soegiri Lamongan.

BAB 1

PENDAHULUAN


1.1        Latar Belakang
Tulang sebagai jaringan yang dinamis, mempunyai fungsi ganda yaitu fungsi mekanis dan fungsi metabolik. Dalam fungsi mekanis, tulang merupakan jaringan terkeras dalam tubuh manusia penyusun kerangka dan memberi bentuk tubuh pada manusia juga sebagai tempat melekatnya otot serta melindungi organ vital dan memungkinkan tubuh bisa bergerak dengan baik. Sebagai fungsi metabolik, tulang merupakan suatu organ dinamis yang berubah setiap saat sehingga dapat berfungsi sebagai cadangan kalsium, magnesium, fosfor atau mineral lainnya yang penting dalam keseimbangan homeotasis (Tjok Raka Putra, 1999).
Sendi secara normal memiliki tingkat gesekan yang rendah selain memiliki bantalan, juga terdapat cairan sendi yang berfungsi sebagai pelumas. Osteoarthritis terjadi ketika munculnya ketidaknormalan dari sel yang membentuk dari tulang rawan sendi, lalu terjadi kerusakan akibat retakan dipermukaannya. Dari retakan tersebut, tulang muncul dan tumbuh di ujung sendi sehingga permukaan sendi yang tadinya halus licin menjadi kasar dan bergelombang. Akibat hal ini, persendian tidak dapat bergerak dengan baik dan menimbulkan nyeri.
Radang sendi merupakan penyakit yang banyak dialami oleh masyarakat, terutama oleh mereka yang berusia tua. Ada berbagai macam radang sendi, namun yang paling sering terjadi adalah Osteoarthritis. Osteoarthritis merupakan penyakit kronis yang menyerang tulang rawan sendi dan jaringan disekitarnya dengan gejala nyeri, kaku dan hilangnya fungsi dari sendi. Osteoarthritis sering juga disebut radang sendi degeneratif, yang disebabkan oleh penuaan. Osteoarthritis juga dialami oleh mereka yang berusia lebih muda, terutama disebabkan oleh cidera, infeksi atau beban terlalu berat pada sendi akibat kerja dan pola makan yang berlebihan sehingga menyebabkan kegemukan (Billy N, 2008).
Seseorang yang menderita Osteoarthritis dapat mengalami kekambuhan. Kekambuhan tersebut dapat ditandai dengan bunyi seperti gesekan pada sendi waktu digerakkan, pembengkakan pada sendi, nyeri dan kaku pada sendi. Makanan atau diit merupakan faktor utama dalam pembentukan energi bagi seseorang untuk beraktifitas pertumbuhan, serta mengganti sel tubuh yang rusak. Jika seseorang mengalami kekurangan dalam pemenuhan dalam asupan makanan, maka dalam beraktifitas seseorang tersebut akan mengalami gangguan, karena kurangnya energi. Sehingga menghambat pertumbuhan serta penggantian sel tubuh yang rusak menjadi tidak optimal. Tetapi bila seseorang mengkonsumsi makanan atau diitnya mengalami kelebihan maka akan mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan metabolisme dalam tubuh yang dapat menyebabkan terjadinya obesitas.
Obesitas merupakan salah satu faktor resiko yang dapat mendorong terjadinya Osteoarthritis. Obesitas akan disertai peningkatan masa tulang subkondrium yang dapat menimbulkan kekakuan pada tulang sehingga menjadi kurang lentur (Smeltzer and Bare, 2002). Pola makan yang tepat masih merupakan unsur fundamental dalam penanganan penderita Osteoarthritis, sebab dengan pola makan yang tepat dan teratur sesuai anjuran kemungkinan penyakit Osteoarthritis tidak dapat menimbulkan kekambuhan. Prinsip umum pola makan dan pengenfalian berat badan merupakan dasar dari penatalaksanaan Osteoarthritis.
Rasa nyeri pada Osteoarthritis selalu dimulai bertahap, prosesnya lambat sampai beberapa tahun. Gejala yang sering pada penderita adalah rasa nyeri yang bertambah buruk selama aktivitas dan sembuh setelah istirahat. Rasa kaku cenderung pada saat tidak melakukan aktivitas seperti tidur atau duduk yang dapat bertahan selama lebih dari satu jam dan berkurang dengan jalan peregangan atau latihan jasmani. Apabila penyakitnya bertambah buruk, maka nyeri dapat timbul meski dalam keadaan istirahat sehingga penderita terbangun pada waktu tidur. Pada sendi lutut yang terkena bisa menimbulkan krepitasi atau bunyi seperti gesekan bila bergerak. Dari gejala diatas, untuk memastikan penderita terkena Osteoarthritis ditambahkan pemeriksaan foto ronsen di sendi yang terkena dan pemeriksaan laborat.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, Osteoarthritis merupakan salah satu dari empat kondisi otot dan tulang yang membebani individu. Sistem kesehatan maupun sistem perawatan sosial dengan biaya yang cukup besar. Diseluruh dunia diperkirakan 9,6 % pria dan 18 % wanita di atas  usia 60 tahun menderita Osteoarthritis. Kasus tersebut akan terus meningkat akibat bertambahnya usia harapan hidup, pola makan berlebihan yang menyebabkan obesitas dan kebiasaan merokok.
DST.................ANDA BUTUH LENGKAP SAMPAI BAB TERAKHIR DAN LAMPIRANNYA SAMPAI DATA SPSS DALAM BENTUK DATA WORD.....HUBUNGI 085645040345

pengetahuan keluarga tentang pemenuhan kebutuhan gizi pada lansia di Dusun Ngangkrik Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan?

BAB  1
PENDAHULUAN

1.1        Latar Belakan
Pembangunan Nasional pada khakikatnya pembangunan dalam sistem kesehatan Nasional. Disebutkan bahwa tiap warga negara berhak memperoleh derajat kesehatan yang optimal agar dapat bekerja serta hidup layak sesuai dengan martabat manusia tidak terkecuali warga negara yang tergolong lansia.
Setiap manusia pasti akan mengalami suatu proses yang dinamakan proses menua. Proses menua pada seseorang berlangsung sejak pembuahan sampai pada saat kematian. Tanda-tanda proses itu semakin jelas sejak usia 30-60 tahun keatas. Usia lanjut merupakan tahap akhir dari siklus hidup manusia dan bagian dari proses alamiah kehidupan yang tidak dapat dihindarkan dan akan dialami oleh setiap individu. Pada tahap ini individu mengalami banyak perubahan, baik secara fisik maupun mental, khususnya kemunduran dalam berbagai fungsi dan kemampuan yang pernah dimilikinya. Perubahan penampilan fisik sebagai bagian dari proses penuaan yang normal, seperti berkurangnya ketajaman panca indera, menurunnya daya tahan tubuh merupakan ancaman bagi integritas orang usia lanjut (Wirakusumah. ES, 2002).
Meningkatnya populasi lanjut usia seringkali dianggap sebagai beban bagi anggota keluarga karena rentan terhadap serangan berbagai penyakit yakni membutuhkan biaya perawatan yang cukup tinggi. Keberadaan lansia memotivasi kesadaran akan pentingnya upaya mempertahankan dan meningkatkan kesehatan kelompok lanjut usia sehingga secara fisik maupun mental mereka dapat merasakan kenyamanan, kebugaran serta dapat memberikan respon yang baik terhadap semua kesempatan yang ada (Watson Roger, 2003)
Umumnya orang tua segera menyadari kalau mereka mengalami kemunduran  kemampuan melihat atau mendengar namun seringkali mereka tidak menyadari adanya perubahan terhadap sensitivitas indra penciuman dan perasa karena perubahan ini berlangsung secara perlahan-lahan dan perubahan ini perlu diperhatikan karena akan mempengaruhi  kualitas hidup dan kesehatan lansia secara menyeluruh. Rasa makanan merupakan paduan beberapa persepsi dengan bertambahnya usia, indera perasa, reseptor penciuman akan berkurang jumlahnya. Penurunan sensitivitas indera penciuman menyebabkan makanan terasa kehilangan aroma sehingga menjadi kurang menarik dan tidak menyenangkan lagi (Wirakusumah. ES, 2002).
Perubahan gizi pada lansia merupakan salah satu masalah yang harus ditangani, hal ini akibat perubahan pola makan, perubahan fisik maupun mental yang diperburuk oleh penyakit degeneratif yang diderita sehingga makin memperparah kondisi kekurangan gizi (Watson Roger, 2003)
Menurut Wirakusumah. ES, (2002), di masa mendatang, jumlah lansia di Indonesia semakin bertambah. Tahun 1990 jumlah lansia 6,3% (11,3 juta orang), pada tahun 2015 jumlah lansia diperkirakan mencapai 24,5 juta orang dan akan melewati jumlah balita yang pada saat ini diperkirakan mencapai 18,8 juta. Laporan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1995 jumlah lansia 60 tahun keatas sebesar 7,5% atau 15 juta jiwa dibandingkan dengan tahun 1986 sebesar 5,3% ataau 9,5 juta jiwa. Tahun 2020 jumlah lansia di Indonesia diperkirakan akan menempati urutan ke 6 terbanyak di Dunia dan melebihi jumlah lanjut usia di Brazil, Meksiko, dan di Negara Eropa. Sedangkan lansia yang mengalami kurang gizi di Indonesia sebanyak 3,4%, mempunyai berat badan kurang sebanyak 28,3%.
DST.................ANDA BUTUH LENGKAP SAMPAI BAB TERAKHIR DAN LAMPIRANNYA SAMPAI DATA SPSS DALAM BENTUK DATA WORD.....HUBUNGI 085645040345

peran orang tua dalam memotivasi anak untuk memenuhi kebutuhan personal hygiene (berpakaian) anak SDN Paji kelas IV Kecamatan Pucuk

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Aktivitas ini menjadi rutinitas harian guna memberikan perasaan stabil dan aman pada diri individu. Tingkat kebersihan sendiri dinilai dari penampilan individu serta upayanya dalam menjaga kebersihan dan kerapian tubuhnya setiap hari. Hal ini sangat penting, mengingat kebersihan merupakan kebutuhan dasar utama yang dapat mempengaruhi status kesehatan dan kondisi psikologis secara umum. Roper (2002) dikutip Wahit (2007:126).
Setiap anak adalah individu yang unik, karena faktor bawaan dan lingkungan yang berbeda, maka pertumbuhan dan pencapaian kemampuan perkembangan juga berbeda tapi tetap akan menuruti patokan umum, sehingga diperlukan kriteria sampai berapa jauh keunikan seorang anak tersebut apakah masih dalam batas normal atau tidak  (Soetjiningsih:1999). Anak yang dirawat dengan baik maka akan tumbuh dan berkembang dengan baik sesuai dengan keinginan dan harapan akan tetapi bila anak tidak dirawat dengan baik maka jelas anak tidak akan tumbuh dan berkembang sebagai mana mestinya.
Anak usia Sekolah Dasar memandang semua peristiwa dengan obyektif,
semua kejadian ingin diselidiki dengan tekun dan penuh minat. Pada usia sekolah ini anak mempunyai kecenderungan untuk mengumpulkan berbagai benda antara lain: kartu, batu, logam, kertas gambar, dan lain sebagainya. Tidak itu saja anak juga bermain layang-layang dan jika ada yang putus pasti anak ingin mengejarnya biarpun layangan itu jatuh di atas tempat sampah atau ditempat yang becek ia tidak peduli, itulah yang menyebabkan badan menjadi berkeringat dan baju menjadi kotor. Seperti juga main loncat tali juga menyebabkan badan dan baju anak menjadi kotor karena biasanya jika anak lelah  main lompat tali, anak akan duduk di sembarang tempat dan badan banyak keringat sehingga memudahkan kuman atau debu menempel di badan dan baju menjadi kotor.
Pengetahuan merupakan hasil "tahu" ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. (Soekidjo Notoatmojo, 2003 : 43). Hygiene kebersihan berkaitan dengan mencegah timbulnya penyakit. Dengan pengetahuan orang tua yang tinggi maka orang tua cenderung mengetahui dampak penyakit dan cara mengatasinya yaitu dengan cara memperhatikan kebersihan diri dalam berpakaian pada anaknya. Sebaliknya jika pengetahuan orang tua yang rendah tidak akan mengerti tentang pencegahan penyakit dan tidak dapat memperhatikan kebersihan diri dalam berpakaian pada anaknya.
Motivasi merupakan kekuatan baik dari dalam maupun dari luar yang mendorong seseorang untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditentukan sebelumnya, dengan kata lain motivasi dapat di artikan sebagai dorongan mental terhadap perorangan atau orang-orang sebagai anggota masyarakat (Hamzah B.uno, 2007:1) Motivasi anak dalam perawatan berpakaian harus ditanamkan sejak dini, terutama pada anak dibangku Sekolah Dasar. Sebagai orang tua sebaiknya harus tahu seberapa kemampuan dan kelemahan anak sebab itu bisa memudahkan orang tua dalam membimbing atau mendidik anak. Jika orang tua menghadapi anak dengan motivasi tinggi atau rendah sebaiknya harus tahu apa sebabnya baru orang tua memberi penjelasan dengan baik, kalaupun masih tidak bisa juga sebagai orang tua harus memberi penjelasan dengan tegas misalnya saat anak datang dari sekolah anak meminta cepat ganti baju dengan harapan baju sekolah tidak kotor. Agar anak senang melakukan hal-hal yang baik alangkah baiknya orang tua memberi semangat dengan memberi hadiah.
Keadaan sosial ekonomi yang rendah pada umumnya berkaitan erat dengan berbagai masalah kesehatan yang mereka hadapi disebabkan ketidakmampuan dan ke tidak tahuan dalam mengatasi berbagai masalah yang mereka hadapi (Nasrul Effendi, 1998:48). Keadaan ini dapat terlihat pada anak dengan sosial ekonomi tinggi tentunya pemenuhan kebutuhan personal hygiene dalam berpakaian dapat terpenuhi dibandingkan dengan anak yang sosial ekonomi rendah cenderung sulit memenuhi kebutuhan personal hygiene dalam berpakaian, orang tua yang sosial ekonominya rendah sulit memenuhi fasilitas untuk menjaga kebersihan anak terutama dalam berpakaian.
Peran merupakan serangkaian perilaku yang diharapkan pada seseorang  sesuai dengan posisi sosial yang diberikan baik secara formal maupun informal (Yupi Supartini, 2004:28). Bagi orang tua diyakini sebagai orang yang paling tepat dan paling baik dalam memberikan perawatan pada anak, baik dalam keadaan sehat maupun sakit. Dengan sikap orang tua yang selalu menelantarkan anaknya maka kontak dan perhatian pada anak sangat kurang atau bahkan tidak ada sehingga anak seperti ini tidak pernah mendapatkan pengawasan dari orang tuanya. Jadi peran orang tua dalam menjaga kebersihan anak sangat penting apabila orang tua selalu memperhatikan kebersihan mandi dan kebersihan pakaian anak maka anak kebersihan nya akan baik dan mudah terkena penyakit. Selain peran orang tua, peran pendidik juga sangat dibutuhkan baik secara langsung atau tidak langsung dengan memberi penyuluhan atau pendidik kesehatan pada orang tua misalnya dengan menganjurkan orang tua untuk selalu memperhatikan kebutuhan dan kebersihan personal hygiene anak mereka terutama dalam hal berpakaian.
Keadaan personal hygiene menentukan kesehatan seorang anak. Jika orang tua kurang memperhatikan personal hygiene anak dalam berpakaian maka akan berdampak jelek terhadap anak tersebut karena pakaian yang kotor akan mempermudah kuman menempel pada pakaian tersebut sehingga akan mempermudah pula anak terkena penyakit.
DST.................ANDA BUTUH LENGKAP SAMPAI BAB TERAKHIR DAN LAMPIRANNYA SAMPAI DATA SPSS DALAM BENTUK DATA WORD.....HUBUNGI 085645040345

Hubungan Motivasi Dengan Frekwensi Kekambuhan Pasien Bronkitis Kronis Di URJ Paru RSD Dr.

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1        Latar Belakang
Peralihan musim disamping membawa perubahan pola cuaca juga akan mempengaruhi pola penyakit yang timbul di masyarakat diantaranya penyakit saluran nafas bagian atas dan saluran nafas bawah, salah satunya adalah bronkitis (Billy, 2008)
Bronkitis kronis merupakan penyakit peradangan dari saluran nafas atau bronkus di paru-paru yang menahun. Kekambuhan bronkitis kronis dapat di akibatkan dari gejala klinis apabila tidak di tangani. Ketika saluran nafas mengalami peradangan, terbentuklah dahak tebal di dinding bronkus, sehingga terjadilah batuk berdahak dan sesak nafas menahun yang disertai nyeri dada. Secara epidemiologi, menurut National Center for Health Statistics (1994), sekitar 14 juta orang Amerika Serikat menderita bronkitis, lebih dari 12 juta orang menderita bronkitis akut, sama dengan 5% populasi Amerika Serikat. Di dunia frekuensi bronkitis lebih banyak pada populasi dengan status ekonomi rendah dan pada kawasan industri. Bronkitis lebih banyak terdapat pada laki-laki dibanding wanita. Penyakit dari gangguan saluran nafas masih merupakan masalah terbesar diIndonesia. Angka kesakitan dan kematian akibat penyakit saluran nafas dan paru seperti infeksi saluran nafas akut, tuberkulosis, asma, bronkitis masih menduduki peringkat tertinggi (Faisal Yunus, 2008)
Dari data yang diperoleh di URJ Paru di RSD Dr. tahun 2007 didapatkan 490 pasien bronkitis, pasien baru 113 orang atau 29,97% dan pasien kontrol 377 orang atau 76,93%. Pada tahun 2008 didapatkan 758 orang, dengan pasien baru 196 orang atau 25,85% dan 562 pasien kontrol atau 74,14% sedangkan mulai bulan Januari sampai dengan Februari Tahun 2009 didapatkan 98 pasien dengan pasien baru 20 orang atau 20,40% dan 78 pasien kontrol atau 79,59%. Sedangkan hasil survei awal yang dilakukan di URJ Paru RSD Dr. Soegiri Lamongan, dari 10 pasien didapatkan 7 pasien atau 70,00% sering mengalami kekambuhan, sedangkan 3 pasien atau 30,00% kadang mengalami kekambuhan. Dari uraian data medikal record masalah penelitian adalah banyaknya jumlah pasien yang mengalami kekambuhan.
Diantara faktor yang mempengaruhi serangan ulang atau kekambuhan bronkitis diantaranya adalah motivasi. Motivasi inilah yang mendorong seseorang untuk beraktifitas dalam pencapaian tujuan. Motivasi yang ada pada setiap orang tidaklah sama, berbeda antara yang satu dengan yang lain (Soekidjo N, 2003). Berobat mungkin hal yang sangat membosankan karena butuh waktu yang lama. Oleh karena itu diperlukan suatu daya penggerak dalam diri individu sehingga ada suatu keinginan dan kebutuhan dalam penderita untuk kontrol, peran keluarga dalam keteraturan kontrol sangat diperlukan. Hal ini karena keluarga merupakan pendukung yang sangat vital bagi individu dalam perencanaan, tindakan dan pengobatan pasien bronkitis (Nasrul Effendy, 1998).
Faktor lain yang berpengaruh diantaranya adalah pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, sosial ekonomi, peran keluarga, peran tenaga kesehatan, pengalaman.
Pengetahuan berasal dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Pengetahuan dapat diperoleh secara langsung maupun tidak langsung. Pengetahuan dapat diperoleh dari komunikasi, media cetak dan media elektronik. Makin banyak pengetahuan makin tinggi pula informasi dalam pengaplikasian dalam sehari-hari  (Soekidjo N, 2003).
Seorang yang disibukkan oleh pekerjaan, tidak akan mempunyai cukup waktu atau kesempatan untuk memeriksakan atau kontrol secara rutin, berbeda dengan seorang yang tidak bekerja akan mempunyai cukup waktu atau kesempatan untuk memeriksakan  secara teratur sesuai dengan jadwal pemeriksaannya.
DST.................ANDA BUTUH LENGKAP SAMPAI BAB TERAKHIR DAN LAMPIRANNYA SAMPAI DATA SPSS DALAM BENTUK DATA WORD.....HUBUNGI 085645040345